Beranda > Cerpen > Sejarah Pondok Gede

Sejarah Pondok Gede


“Di Kamar ini aku dilahirkan, Di Balai bambu buah karya Bapakku,,,

“Di Rumah ini aku dibesarkan,, Di Belai Mesra Lentik jari ibu,,,

“Nama dusunku Ujung Aspal Pondok Gede”…..

Sepenggal lirik lagu yang dibawakan oleh penyanyi legendaris Bang Iwan Fals yang mengambil sebuah nama desa kecil yang berada di pinggiran kota Bekasi, Desa dimana kehidupan para penduduknya berubah teru seiring perkembangan zaman yang dipaksa terus berubah walaupun sebernarnya belum siap untuk berubah.

Tak ada yang beda dari desa atau sekarang disebut Kecamatan Pondok Gede yang letak geografisnya berada di pinggiran Bekasi Barat dan Berbatasan dengan Jakarta Timur. Masyarakat dengan berbagai suku tinggal dengan damai disini yang lebih di dominasi dengan masyarakat khas betawi.

Sejarah singkat mengapa disebut desa ini dengan sebutan Pondok Gede adalah kira-kira pada tahun 1775 ada seorang kompeni ketika itu masyarakat  menyebutnya yang bernama Hooyman membangun sebuah gedung dengan corak penggabungan antara gaya Eropa dan Gaya Jawa. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya dibuat dengan selera tinggi, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta langit-langit dan dindingnya dibuat elok dengan Figura mewah. Karena rumah ini sangat besar, sekalipun pemiliknya sangat rendah diri oleh karena itu pemiliknya tetap saja menyebutnya dengan kata Pondok (yang artinya rumah kecil atau rumah sederhana), tetapi masyarakat tersebut menyebutnya Langoed yang artinya Pondok Gede. Yang sangat miris adalah keberadaan Hooyman tidak pernah banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede.

Kemudian seperempat abad berlalu, kepemilikan Langoed Pondok Gede ini jatuh ke tangan Lendeert Miero.Dia ini orang yang tergolong Aneh Alias Kontroversial.Tuan tanah Lendeert Miero alias Juda Leo Ezekiel adalah orang Yahudi asal Polandia yang ikut mencari nafkah di betawi, dalam keadaan lontang-lantung dan bisa bangkit menjadi tuan tanah kaya raya. Selain Langoed Pondok Gede dia juga memiliki sebuah rumah mewah yang sampai pada tahun (2003) disaksikan kehebatannya di Gedung Arsip Nasional yang terletak di jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Lendeert meninggal pada usia 79 tahun dan dimakamkan di samping rumahnya di Pondok Gede, tetapi makam itu kemudian dibongkar dan dijadikan rumah hunian penduduk bahkan nisannyapun dicongkel untuk bahan pembuatan rumah-rumah penduduk (Kalau untuk merusak, kitalah jagonya !!)

Dan pada tahun 1992 rumah yang sangat besar seperti istana itu dirobohkan untuk dijadikan Toko Serba Ada, yang sekarang sampai tahun 2011, Toko Serba Ada itu telah disulap menjadi MALL PONDOK GEDE I dan II,,

(mantabnya ya gan?…)

Mesikpun banyak pihak yang menyayangkan pembongkaran tersebut, tetapi siapa di jaman sekarang yang masih memperdulikan sejarah?…

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa namanya PONDOK GEDE tapi koq gak ada Pondoknya?..

Jawabannya ya Begitulah…

UUD =>…….Ujung-Ujungnya Duit….Not Concerned With History

Kategori:Cerpen
  1. ayu
    25 Juni 2011 pukul 12:16

    Mantab mas,,jadi tau sejarah kota sya..

  2. 30 Juni 2011 pukul 19:22

    Baru tau aku cerita tentang pondok gede.. taunya cerita rumah serem yang d pondok indah hehehe🙂

    • 6 Juli 2011 pukul 11:35

      hahaha,,
      itu mah film atuh mbak…

  3. jokop
    29 Februari 2012 pukul 15:44

    waktu gw kecil sih masih sering maen maen di depannya…tapi ga pernah berani masuk.tempatnya juga dikelilingi sama hutan.
    gw pikir itu rumah hantu….ga taunya rumah yang cukup punya sejarah di kota itu.
    sayang juga ya…

  4. jaya
    2 April 2012 pukul 23:58

    ohhh..interesting enough

  5. bober jameean
    13 September 2012 pukul 15:10

    INDONESIA jago’a menghilangkan sejarah. ..bukan membuat’a

  6. nurman priatama
    29 Januari 2013 pukul 11:54

    gan, ane izin copas boleh ?

  7. 25 Februari 2013 pukul 21:54

    Serem

  8. 25 Februari 2013 pukul 21:56

    SERAM

  9. ruslan
    24 Maret 2013 pukul 23:36

    pondok gede bangunan berbentuk seperti pramide besar yg didalam ada berapa penjara peninggalan jaman kolonial, yang dikelilingi oleh pohon sengon dan pohon asem yg sangat besar, dan pohon karet yg skrg dimiliki oleh au yg dulunya terkenal dengan nama pukadara(pusat koperasi angkatan udara) sekarang ini tidak ada miniaturnya atau photonya sepertinya hanya sebutan saja, trims.

  10. andi
    1 November 2013 pukul 16:32

    sblom jd pondok gede plaza awal nya itu dulu bioskop namanya Dian Theater….di bioskop itu hanya memutar film film indonesia

  11. arif atmaja
    27 Desember 2013 pukul 11:21

    trimaksh bgt buat info sejarahnya mas..jd lebih tau sejarah tempat kelahiran sy😀
    sayang,rumah nya udh g ada,pdhal bs jadi ikon kota.

  12. 30 Juni 2016 pukul 11:18

    Kebetulan gw sekolah di SMP Negri Pondok Gede dari tahun 1981-1983 dulu masih Filial Tambun, kalau sekarang namanya SMP Negri 6 (Belpas)
    sebelah timur Gedung Pondok Gede yang sekarang jadi Atrum Pondok Gede dulunya masih rawa rawa, sedangkan Pasar Pondok Gede yang lama berada sebelah selatan (dulu ada Bioskop Pondok Gede) yang tidak banyak berubah tinggal lapangan sepak bola tempat gw berolah raga sewaktu SMP

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: